Sampai sekarang saya masih terkenang dengan peristiwa ini. Satu momen yang akhirnya menggiring saya untuk mengubah pola pikir. Sungguh suatu peristiwa yang besar dalam sejarah hidup saya.

Ini adalah tentang kelahiran putri saya yang ke tiga. Proses kehamilanku ini terasa normal dan biasa saja seperti kehamilan sebelumnya. Bahkan kondisi tubuh dan janin terasa lebih sehat tidak mengalami keluhan dan kendala apapun, hanya memang saya tidak melakukan USG.

Pagi itu Hari Perkiraan Lahir (HPL) menurut perkiraan dokter. Suami saya sengaja tidak berangkat kerja seperti biasanya. Dia pikir siapa tau hari itu memang memang saat kelahiran, sehingga suami bisa menemani, walaupun belum ada tanda-tanda kelahiran. Dan alhamdulillah, tanpa rasa mules atau sakit yang lama saya melahirkan dirumah hanya dengan suami, karena keburu lahir sebelum bidan datang.

Allahu Akbar, Maha Besar Allah dengan segala ciptaanya. Entah apa yang kami rasakan saat itu, sedih, gembira, atau bersyukur ketika menghadapi kenyataan ini. Putri kami lahir dengan kondisi yang sangat istimewa. Iya putri kami lahir dengan kondisi yang tidak sempurna menurut kacamata manusia.

 Yang saya ingat saat itu suami duduk di sudut kamar nampak ada bulir bening di sudut matanya. Itu adalah tangisan pertama yang  saya lihat sejak kami menikah. Beliau terus berdoa dan tampak sekali mencemaskan kondisi saya saat itu. Seketika itu saya sadar, "Saya harus kuat dan sabar dalam menerima takdir ini." Kemudian suami mendekat dan memeluk seraya mengatakan, "Kita diberi amanah oleh Allah yang luar biasa." Sebagai manusia biasa seketika itu saya menangis sedih, tetapi suami dan keluarga terus menyemangati, sehingga mampu membuat kondisi saya  tidak larut dalam kesedihan.

Atas kesepakatan keluarga, pada hari kedua putri kami dibawa ke RS besar untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Saya berusaha tegar mendampingi putriku walaupun kondisi saya sendiri sebetulnya harus istirahat karena baru sehari melahirkan. Tapi semangatku mengalahkan semuanya, walaupun dokter dan keluarga mengkhawatirkanku.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan panjang dari pihak RS, hasil sementara menunjukkan bahwa, " putriku mengalami kelainan bawaan, kemungkinan terburuknya adalah pendengaranya tidak sempurna dan ini akan berdampak pada kemampuan verbalnya.

Bumi rasanya berputar mendengar hasil ini, tubuhku lemas tak berdaya. Sekuat apapun diriku terasa sangat berat. Shock, antara sadar dan tidak saya dengar, tangisan putriku melengking.
Ya Allah ya Robbi aku tersadar kupeluk putriku yang masih merah tanpa dosa ini, rupanya dia lapar sejak beberapa saat belum minum ASI.

Jujur sebagai manusia biasa dan seorang ibu, pedih menerima kenyataan ini. Namun sebagai orang yang beriman harus punya keyakinan yang kuat tentang sebuah takdir, bahwa apapun yang terjadi didunia ini tidak terjadi secara kebetulan, semua sudah dalam scenarioNYA. Hanya doa dan usaha yang mampu merubah takdir, dan saya yakin, "bersama kesulitan selalu ada kemudahan." Tidak mudah memang untuk menghadapinya, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Dari takdir ini saya mendapatkan pelajaran, apa itu artinya IKHLAS. Seiring berjalanya waktu pada tahun ke tiga usia putriku, ikhlas itu baru betul-betul saya rasakan. Yaitu menerima tanpa syarat apapun. Sudah tak ada rasa sedih, kecewa apalagi marah. Subhanallah Allah telah menarik keluar rasa itu dari hatiku, lega rasanya. Bersamaan dengan itu putriku mulai bisa berbicara, yang menurut perkiraan medis tidak bisa berbicara. Dan kata pertama yang keluar adalah memanggil IBU. Teringat pesan alqur'an "Lalu nikmat Tuhan mana lagi yang akan kamu dustakan”

Sungguh saya di sadarkan betul dengan hal-hal yang mengiringi takdir ini, yang pada akhirnya seperti memberi energi baru untuk selalu menghantarkan dan mendampinginya menjadi manusia mandiri dan insha Allah shalihah. Kini putriku sudah berusia 17 tahun dan dialah guru besar kehidupanku. Sungguh indah berdamai dengan takdir asal kita jalani dengan senyum dan syukur.


Endaryati
Ibu Rumah Tangga
View Post
Naluri orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitupun sebagai Emak. Tanggung jawab yang dipikul tidaklah ringan. Di antaranya adalah bagaimana supaya tumbuh kembang buah hatinya bisa optimal dari segi fisik maupun psikisnya.
Berbagai upaya dilakukan, misalnya: memberi makanan yang halal dan thoyib, memilih sekolah yang baik, teman-teman yang baik, dan sebagainya. Tetapi hendaknya Emak jangan sampai lupa, satu hal yang juga sangat penting adalah melatih anak untuk cinta ibadah. Melatih anak untuk cinta ibadah tidaklah mudah. Perlu kesabaran dan ketelatenan  Emak,  juga memerlukan pengajaran yang benar dan pembiasaan sejak dini.
Anak-anak memerlukan contoh yang kongkrit dari keluarga terutama orang tua dan lingkunganya. Emak dan seluruh anggota keluarga harus bersinergi untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan, setiap kali melakukan aktifitas ibadah. Hal ini menuntut kemampuan Emak untuk kreatif mencari cara agar anak-anak cinta ibadah.
Salah satu ibadah yang setiap hari kita lakukan adalah sholat.Hal ini  sangat penting diajarkan  sejak dini, karena sholat merupakan tiang agama. Bukan begitu Emak? Sepakat ya!
Berdasarkan pengalaman saya, membiasakan sholat yang paling sulit adalah  pada waktu subuh. Mungkin karena udaranya  dingin dan masih enak untuk tidur. Apakah Emak juga merasakan hal yang sama?


 Berikut ini adalah tips atau cara membangunkan anak untuk sholat subuh:
1.    Membiasakan kegiatan sholat subuh berjamaah sejak kecil. Mengajari anak untuk cinta ibadah terutama sholat subuh ini tidaklah mudah.  Harus dilakukan secara bertahap. Sebetulnya  sebagian besar anak mempunyai kebiasaan yang hampir sama yaitu bangun sebelum subuh. Biasakanlah perilaku ini menetap sampai dewasa.

2.     Buatlah suasana rumah “Hidup” sejak subuh, nyalakan lampu seluruh ruangan sehingga tampak terang benderang. Buka seluruh jendela dan pintu, biarkan udara pagi yang segar masuk ke dalam rumah, sehingga anak merasakan suasana yang berbeda.
3.      Perdengarkan murottal Alqur’an atau putarkan nasyid kesayanganya. Ayat Alqur’an dan syair-syair nasyid yang menyentuh akan membuat hati anak tergugah dan perlahan-lahan membuka matanya.
4.      Emak harus bangun lebih awal, karena jika tidak akan berpengaruh terhadap suasana hati bahkan akan menimbulkan kepanikan. Hal ini menyebabkan jadwal yang sudah diatur akan berantakan. Emak harus mandi atau sikat gigi sebelum membangunkan, agar anak mencium wangi segar saat bangun tidur.
5.      Ceritakanlah kepada anak kisah-kisah inspiratif tentang keutamakan sholat subuh. Sehingga anak termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Jangan lupa gunakan kalimat yang positif, misalnya “Kalau mau disayang Allah, ayo bangun lalu sholat subuh”.
6.      Berbagi tugas dengan suami, siapa yang harus membangunkan anak-anak (adik, kakak, dsb). Siapkan minuman hangat kesukaan anak-anak. Hal ini untuk merangsang tubuhnya, agar ada energi baru. Buatlah kesepakatan dengan anak sebelum tidur, tentang cara yang diinginkan saat bangun, dan jam berapa harus bangun.
Jangan lupa beri penghargaan kepada anak, untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab. Jangan khawatir anak menjadi “Matre”, asal Emak tau waktu dan cara yang tepat. Hadiah tidak harus berupa benda, tetapi bisa dalam bentuk ucapan atau tulisan. Misalnya “Terima kasih telah menjadi anak mama yang sholeh, mama tau bangun subuh itu memang berat kamu hebat, semoga Allah menyayangimu”.
Itulah cara, agar anak bangun sholat subuh. Selamat mencoba!

Endaryati

Ibu Rumah Tangga.
View Post

6 CARA MENGHEMAT UANG

1. Pilih Makanan Segar
      Beli kebutuhan (makan, minum, dan kebutuhan rumah tangga) sehari-hari di toko yang menawarkan harga bersaing. makan diluar dapat tetap anda lakukan untuk mengurangi kebosanan, asalkan dalam frekwensi yang tidak terlalu sering. beli pula makanan segar karena akan lebih murah dibanding makanan yang telah diawetkan.
     bila anda mau dan sempat, siapkan bekal  makan siang anda , suami, dan anak-anak setiap pagi. biayanya akan jauh lebih murah ketimbangmembeli dari kantin kantor atau sekolah.
Hidangkan pula kue-kue buatan sendiri (ketimbangmembeli kue kalengan) sebagai makanan selingan keluarga.
2. Teliti Membeli Pakaian
      Belilah pakaian bila anda, suami atau anak memang benar-benar membutuhkannya. Pilihlah jenis bahan yang mudah perawatanya sehingga tidak perlu dicuci secara khusus di binatu.  Sempatkan diri untuk membeli pakaian pada saat obral. Bila teliti biasanya bisa anda dapatkan yang baik. Membeli baju anak-anak  dengan ukuran lebih besar satu atau dua nomor dapat pula Anda lakukan. anak pasti akan membutuhkanya nanti.
3. Hemat Listrik
     Slogan hemat energi, hemat biaya, pasti sering Anda dengar . Akan lebih baik lagi bila Anda praktekkan. Matikan lampu bila ruangan tidak dipergunakan, kurangi pula penggunaan lampu yang tidak diperlukan.
4. Jadilah Anggota Perpustakaan
     Bila Anda dan suami gemar membaca, daftarkan diri Anda  menjadi anggota 2-3 perpustakaan. Dengan begitu Anda bisa menghemat biaya pengeluaran untuk membeli buku. Ajak pula anak-anak menjadi anggota perpustakaan, disamping menghemat pembelian buku, Andapun telah mengembangkan kebiasaan membaca pada anak.
5. Kuasai satu ketrampilan
     Memiliki suatu ketrampilan, apakah itu menjahit atau memotong rambut, akan bermanfaat dan dapat menghemat beberapa pos pengeluaran.
6. Menabunglah
      Menabung menimbulkan rasa aman. Bila saatnya anda harus membayar segala tagihan, pertama-tama sisihkan dulu untuk tabungan.  Anda dapat menempuh berbagai cara menabung. Langsung memasukkan sekian persen dari pendapatan ke dalam tabungan atau simpan saja pengeluaran mingguan atau bulanan Anda ke dalam tabungan tradisional/celengan atau diinvestasikan dalam bentuk barang.
      Melonggarkan sedikit penghematan yang sedang Anda lakukan, boleh-boleh saja untuk menyenangkan keluarga, karena hidup ini memang perlu dinikmati. Tapi, jangan lupa untuk segera mengencangkan ikat pinggang kembali.
                                     
                       Diasadur dari Ummi, edisi 11/95
   

View Post
sahabat kecilku.
ingin rasanya menemanimu saat kau seorang diri menjalani hari hari terpurukmu. sekedar berbagi cerita tentang apa saja tanpa sekat hingga berkurang beban hidupmu. cukup aku sebagai pendengar setiamu saja agar berkurang seluruh gundah yang menyesakmu. lepaskan dan jalani saja perjalanan hidup ini dengan ikhlas, toh hidup ya  begini saja.nikmati seluruhnya dengan kelapangan jiwa.
Hanya Allah pemilik solusi, Pasrahkan saja seluruh permasalahan hidup ini, kewajiban kita hanyalah terus berusaha tanpa henti, dan meyakini dengan sungguh, bahwa takdir kita adalah yang terbaik.

jatuh bangun dalam kehidupan ini adalah sebuah irama, yang apabila kita resapi sungguh banyak makna.yang harus kita lakukan adalah terus menerus belajar dengan sekuat tenaga yang kita punya, belajar dengan siapapun dan dalam situasi apapun.
semoga Allah selalu menguatkanmu dalam menjalani drama kehidupanmu yang penuh liku.

TETAP SEMANGAT SAHABAT KECILKU, ENGKAU MANUSIA TANGGUH
View Post
UCAPAN ORANG TUA ADALAH DOA


Ungkapan ini sering kali kita dengar di dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak hal ini pernah kita lakukan, hanya kadang-kadang tidak  dipedulikan. Seperti yang saya alami sendiri, sebuah peristiwa yang dulu ketika mengucapkan tidak mengira hal ini akan terjadi di kemudian hari.
Sekitar tahun 2000  Alhamdulillah amanah yang ketiga kami lahir, putri kami  ini sangat istimewa, dibanding dengan kakak-kakaknya yang terdahulu. Sangat istimewa karena sejak lahir dia membawa kekhususan terutama masalah kesehatanya yang memerlukan perhatian lebih.

Beberapa RS besar di semarang  seperti: RS Kariadi, Roemani, elisabet, Telogo Rejo, sudah kami sambangi untuk melakukan pemeriksaan, karena kasus anak saya ini cukup komplek bawaan sejak lahir, maka harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, begitu kata dokter. Untuk mengetahui perkembanganya maka harus dilakukan terapi rutin 2 kali dalam satu minggu sampai minimal usia 4 tahun.

Program ini kami jalani dengan semangat ikhlas apapun kondisi yang kami harus hadapi, pantang menyerah demi kesehatan anak kami. Ditengah-tengah perjalanan terapi ini ketika anak kami berusia 2 th yaitu tahun 2002 harus dilakukan pemeriksaan BERA untuk mengetahui kondisi pendengaranya, karena anakku belum bisa berbicara sedikitpun. Untuk tindakan ini ternyata harus dibawa ke jakarta (RSCM) karena alat yang ada waktu Itu hanya di beberapa RS saja, kebetulan alat yang ada di semarang mengalami kerusakan 

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan selama 21 hari di RSCM, hasilnya: anak saya pendengaranya kurang lebih 75 desibel, sementara untuk ukuran orang normal hanya 30 desibel. Jadi anak saya perlu diberi atau memakai alat bantu pendengaran, namun dari segi intelegensi anak ini diatas rata-rata menurut hasil pemeriksaan psikiater dari RSCM.

Akhirnya pada hari ke 22 kami memutuskan untuk pulang dengan semangat yang baru. Namun sebelum pulang saya didatangi beberapa dokter ahli disana meminta ijin untuk diperbolehkan mendokumentasikan dan menjadikan kasus anak saya ini sebagai bahan observasi para dokter dan mahasiswa kedokteran UI. “Boleh ya ibu, kata salah seorang dokter. Saya mengangguk sambil berkata, “monggo silahkan dokter kalau itu  berguna untuk ilmu kedokteran, siapa tau anak saya nanti ada yang bisa jadi seperti dokter”.

Peristiwa ini sudah lama berlalu, hingga 9 th kemudian tepatnya tahun 2011  anak saya yang pertama (kakak dari anak istimewaku ini) lulus SMA, tidak tau kenapa anakku ini namanya AISYAH punya keinginan yang kuat masuk fakultas kedokteran. Aku kaget dan bingung, karena terus terang apakah saya mampu membiayai, Ya Allah mungkinkah ini? “Nduk tak mencoba fakultas lain , begitu saranku sebagai ibunya tanpa menunjukkan rasa kekhawatiranku. “Tidak buk, kalau jurusan lain walaupun diterima tidak akan saya masuki”, begitu jawabnya dengan penuh keyakinan. Saya sebagai ibunya hanya bisa mendukung dan mendoakan apapun keinginan dan cita-cita anakku.

Dan alhamdulillah atas ijin Allah  anak saya diterima tahun itu juga(2011) di jurusan kedokteran umum melalui jalur SMPTN, dan sekarang sdg menyelasaikan tahun terakhir KOAS semoga lancar, aamiin. Duh Gusti matur nuwun paring kawelasan dumateng kula lan anak kula (Ya Allah terima kasih atas kemurahan ini kepada kami). Benar-benar saya tidak menyangka ucapan saya 9 tahun yang lalu terkabul pada hari itu. Ya ALLAH inikah yang disebut bahwa ucapan kita adalah doa?
Saya jadi ingat pesan ibu  ketika menemani saat melahirkan anakku yang pertama “nduk kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, harus lebih hati-hati dalam berbicara karena uacapan ibu untuk anaknya itu di aminkan oleh malaikat. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk bisa menahan diri agar selalu berkata yang baik atau lebih baik diam.


Terima kasih emak selalu mengingatkanku     

View Post
UCAPAN ORANG TUA ADALAH DOA


Ungkapan ini sering kali kita dengar di dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak hal ini pernah kita lakukan, hanya kadang-kadang tidak  dipedulikan. Seperti yang saya alami sendiri, sebuah peristiwa yang dulu ketika mengucapkan tidak mengira hal ini akan terjadi di kemudian hari.
Sekitar tahun 2000  Alhamdulillah amanah yang ketiga kami lahir, putri kami  ini sangat istimewa, dibanding dengan kakak-kakaknya yang terdahulu. Sangat istimewa karena sejak lahir dia membawa kekhususan terutama masalah kesehatanya yang memerlukan perhatian lebih.

Beberapa RS besar di semarang  seperti: RS Kariadi, Roemani, elisabet, Telogo Rejo, sudah kami sambangi untuk melakukan pemeriksaan, karena kasus anak saya ini cukup komplek bawaan sejak lahir, maka harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, begitu kata dokter. Untuk mengetahui perkembanganya maka harus dilakukan terapi rutin 2 kali dalam satu minggu sampai minimal usia 4 tahun.

Program ini kami jalani dengan semangat ikhlas apapun kondisi yang kami harus hadapi, pantang menyerah demi kesehatan anak kami. Ditengah-tengah perjalanan terapi ini ketika anak kami berusia 2 th yaitu tahun 2002 harus dilakukan pemeriksaan BERA untuk mengetahui kondisi pendengaranya, karena anakku belum bisa berbicara sedikitpun. Untuk tindakan ini ternyata harus dibawa ke jakarta (RSCM) karena alat yang ada waktu Itu hanya di beberapa RS saja, kebetulan alat yang ada di semarang mengalami kerusakan 

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan selama 21 haridi RSCM, hasilnya: anak saya pendengaranya kurang lebih 75 desibel, sementara untuk ukuran orang normal hanya 30 desibel. Jadi anak saya perlu diberi atau memakai alat bantu pendengaran, namun dari segi intelegensi anak ini diatas rata-rata menurut hasil pemeriksaan psikiater dari RSCM.

Akhirnya pada hari ke 22 kami memutuskan untuk pulang dengan semangat yang baru. Namun sebelum pulang saya didatangi beberapa dokter ahli disana meminta ijin untuk diperbolehkan mendokumentasikan dan menjadikan kasus anak saya ini sebagai bahan observasi para dokter dan mahasiswa kedokteran UI. “Boleh ya ibu, kata salah seorang dokter. Saya mengangguk sambil berkata, “monggo silahkan dokter kalau itu  berguna untuk ilmu kedokteran, siapa tau anak saya nanti ada yang bisa jadi seperti dokter”.

Peristiwa ini sudah lama berlalu, hingga 9 th kemudian tepatnya tahun 2011  anak saya yang pertama (kakak dari anak istimewaku ini) lulus SMA, tidak tau kenapa anakku ini namanya AISYAH punya keinginan yang kuat masuk fakultas kedokteran. Aku kaget dan bingung, karena terus terang apakah saya mampu membiayai, Ya Allah mungkinkah ini? “Nduk tak mencoba fakultas lain , begitu saranku sebagai ibunya tanpa menunjukkan rasa kekhawatiranku. “Tidak buk, kalau jurusan lain walaupun diterima tidak akan saya masuki”, begitu jawabnya dengan penuh keyakinan. Saya sebagai ibunya hanya bisa mendukung dan mendoakan apapun keinginan dan cita-cita anakku.

Dan alhamdulillah atas ijin Allah  anak saya diterima tahun itu juga(2011) di jurusan kedokteran umum melalui jalur SMPTN, dan sekarang sdg menyelasaikan tahun terakhir KOAS semoga lancar, aamiin. Duh Gusti matur nuwun paring kawelasan dumateng kula lan anak kula (Ya Allah terima kasih atas kemurahan ini kepada kami). Benar-benar saya tidak menyangka ucapan saya 9 tahun yang lalu terkabul pada hari itu. Ya ALLAH inikah yang disebut bahwa ucapan kita adalah doa?
Saya jadi ingat pesan ibu  ketika menemani saat melahirkan anakku yang pertama “nduk kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, harus lebih hati-hati dalam berbicara karena uacapan ibu untuk anaknya itu di aminkan oleh malaikat. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk bisa menahan diri agar selalu berkata yang baik atau lebih baik diam.


Terima kasih emak selalu mengingatkanku     

View Post


BAGAI AYAM KEHILANGAN INDUKNYA



Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia mempunyai permasalahan yang dihadapi,tidak kenal usia siapapun itu. Manusia dewasa, orang tua, remaja bahkan anak-anak. Permasalahan muncul dikarenakan ada kesenjangan antara kenyataan dan kondisi ideal yang seharusnya.

Sebagai manusia dewasa kita harus bisa mencari solusinya agar permasalahan yang sedang kita hadapi ini dapat terselesaikan. Hal ini bisa dengan berbagai macam cara misalnya dengan bertanya kepada ahlinya, membaca, belajar, berdoa dsb. Seperti kasus-kasus yang sekarang ini marak terjadi di kalangan para remaja, yang notabene pada usia ini anak-anak sedang mencari dan menemukan jati dirinya. Kasus berikut ini mungkin salah satu contohnya:



Ada seorang gadis remaja kurang lebih berusia 15 tahun (klas 3 smp). Menginjak usia pra remaja ketika awal masuk sekolah SMP anak ini kelihatan ceria, banyak temanya dan lebih menonjol dari temanya dilihat dari segi fisiknya. Dia kelihatan lebih cantik dan memiliki tinggi badan yang ideal untuk anak-anak seumuran dia. Pada awalnya anak ini menjalani kegiatan di sekolah maupun dalam kehidupan keseharianya kelihatan tidak ada masalah. Masalah muncul ketika dia menyadari ternyata banyak teman-teman yang memperhatikan dan mulai berani menggoda, terutama teman-teman lelakinya. Kemudian mulailah dia berani bersolek, tebar pesona sana sini yang pada akhirnya menjadikanya belajar tidak fokus, sering tidak masuk sekolah tanpa keterangan, berbohong dengan gurunya, dsb. Kondisi ini berpengaruh tehadap hasil belajar yang menurun.

Sebagai seorang yang menjadi bagian dari institusi pendidikan tersebut, saya mengambil inisiatip untuk mencari informasi yang lebih mendalam tentang kondisi anak ini. Mulailah saya mengumpulkan informasi melalui teman-teman dekatnya, para gurunya dan dari anak ini secara langsung. Ternyata anak ini sejak usia 4 tahun (TK) sudah ditinggal kedua orang tuanya merantau ke luar negeri, baru beberapa bulan ini ibunya pulang ke indonesia sedang ayahnya masih di luar negri. Jadi di usia tumbuh kembangnya anak ini hanya ditemani neneknya yang buta huruf dan nyaris tidak pernah bersama orang tuanya. Secara umum kita sudah bisa menebak kira-kira anak ini akan menjadi gadis seperti apa dengan kondisi seperti ini. Dia butuh sosok pelindung yang setiap saat bisa menjadi tempat keluh kesah, bercerita dan berbagi, sekalipun tidak bisa menggantikan fungsi kedua orang tuanya. Nampaknya dia sudah menemukan orang yang bisa sedikit menjadi tumpuan harapanya ini, hal ini terlihat sejak naik ke kelas 2 anak ini selalu diantar oleh seorang laki-laki. Pada awalnya saya mengira ini kakak kandung ataupun saudaranya, tanpa berprasangka buruk sedikitpun karena seperti kebanyakan teman teman sekolahnya juga diantar jemput oleh saudara maupun orang tuanya. Namun dalam pengamatan saya anak ini akhir-akhir ini mengalami perubahan yang sangat mencolok, dia menjadi gadis yang pemurung, prestasinya juga menurun dan suka sakit-sakitan.



 Dengan mencari informasi yang lebih intens saya mendapatkan data yang sungguh memilukan tentang keadaan anak ini, jauh diluar dugaan saya. Sungguh membuat hati ini miris, betapa kelamnya kehidupan anak-anak yang dalam tumbuh kembangnya tidak mendapatkan haknya sebagai anak, yaitu mendapatkan limpahan kasih sayang ayah bundanya, diperhatikan, dicintai, dipeluk, dicukupi kebutuhan materi dan psikisnya. Seperti layaknya sinetron kisah yg dialami anak ini, dia mendapatkan tekanan secara psikis justru dari orang yang awalnya dikira bisa menjadi pelindungnya, dia sering dipaksa memenuhi segala keinginan kekasihnya ini, dan apabila dia menolak maka sebuah ancaman yang harus dia hadapi. Pada akhirnya dia tidak bisa melepaskan diri dari jeratan kekasihnya ini dan dia selalu merasa ketakutan. Belum lagi ibunya yang diharapkan bisa menjadi tempat untuk bersandar , meluapkan keluh kesah yang dihadapi selama ini, justru menambah tekanan dan permasalahan dengan memaksakan kehendaknya. Setelah lulus SMP nanti dia tidak boleh meneruskan sekolah, harapan ibunya dia harus bekerja ikut buliknya ke luar jawa, padahal keinginan anak ini, ia ingin bisa melanjutkan sekolah seperti teman-temanya. Sungguh betapa beratnya beban anak ini, yang mestinya pada masa remaja ini dia bisa mengembangkan dirinya untuk mendapatkan pengalaman yang seluas-luasnya sebagai bekal masa depanya nanti.



Inilah salah satu contoh nyata gambaran permasalahan anak-anak jaman sekarang. Sebagai orang tua yang mempunyai tanggung jawab ini mari ambil kaca pembesar untuk bercermin. Sudahkah kita menjaga amanah yang dititipkan kepada kita? Sudahkah kita memenuhi hak-hak anak kita? Ini akan kita pertanggung jawabkan nanti dihari perhitungan. Waktu tak akan berulang mari dampingi anak-anak kita dalam tubuh kembangnya agar menjadi investasi  dunia akhirat diakhir perjalanan kehidupan ini. Mari kita persiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang kuat, pantang menyerah, peduli , mandiri, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, anak anak yang bisa mengantarkan kedua orang tuanya ke surga. Sudahkah kita mengajari anak-anak kita kalau suatu saat kita menghadap yang kuasa anak kita yg harus memandikan, mengkhafani, mensolati, mengubur di liang lahat dan tentu mendoakan setiap saat? Mari bapak ibu bersama-sama untuk berbenah diri. Tidak usah saling menyalahkan justru hal ini malah akan menjadi bumerang, muhassabah/ introsepeksi diri akan lebih mulia dan manfaat. Jangan sampai anak-anak kita seperti ayam yang kehilangan induknya.

Ya Allah, ampuni kami para orang tua yang tak memperdulikan amanah yang engkau titipkan, ampuni kami para guru yang belum bisa selalu mendampingi dan mengantarkan anak didik kami menjadi generasi sholih dan sholikhah.



Mengutip dari Aa Gim :”kemampuan orang tua dalam mendidik anak ada batasnya, sedangkan pintu pertolongan Allah tiada terbatas. Maka, iringi proses mendidik anak dengan banyak berdoa kepada-Nya





SELAMAT BERJUANG BAGI PARA ORANG TUA
View Post